Pulau Batam
Sebagai salah satu kawasan perdagangan Internasional di Indonesia, Batam cukup dikenal oleh banyak kalangan. Apalagi setelah pada akhir tahun ini akan diberlakukan kawasan SEZ / FTZ di Batam. Namun sebagai salah satu kawasan paling berpotensi di Indonesia. Tentunya kita harus dapat mengenal Batam dengan baik.
Batam terletak pada posisi geografis 0,55’ – 1,55’ Lintang Utara, dan 103,45’ – 104,10’ Bujur Timur. Luas wilayah Batam yaitu 415 km persegi ( 41.500 Ha). Secara geografis Batam memilki beberapa perbatasan, yaitu
- Sebelah Barat : berbatasan dengan Selat Malaka dan Pulau Sumatera
- Sebelah Utara : berbatasan dengan Selat Malaka dan Singapura
- Sebelah Timur : berbatasan dengan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan
- Sebelah Selatan : berbatasan dengan Selat Malaka dan Pulau Bintan
Sebagai salah satu kawasan perdagangan di Indonesia Batam mulai dikembangkan pada tahun 1971 oleh ketetapan Presiden Soeharto pada saat itu. Berikut ini beberapa periode pengembagan di Batam.
1. 1971 – 1976 : Periode Basis Pengembagan Pengolahan Minyak.
Ketua BIDA ( Batam Industrial Development Area ) : Dr. Ibnu Sutowo
2. 1976 – 1978 : Masa Konsolidasi, Ketua BIDA : Dr.J.B Sumarlin
3. 1978 – 1998 : Periode Pembangunan prasarana dan penanaman modal. Ketua BIDA : B.J Habibie
4. Maret 1998 – Juli 1998 : Periode Pembangunan prasarana dan penanaman modal. Ketua BIDA : J.E Habibie
5. Juli 1998 – 2003 : Periode pengembangan Pembangunan prasarana dan penanaman modal lanjutan dengan perhatian lebih besar pada kesejahtreraan rakyat dan perbaikan iklim investasi. Ketua BIDA : Ismeth Abdullah.
Sebagai salah satu kawasan perdagangan Internasional, hal ini pun membuat pertumbuhan penduduk di Pulau Batam cukup signifikan . Hal ini terbukti pada perbandingan kenaikan jumlah penduduk di Pulau Batam yang cukup signifikan. Pada tahun 2003 jumlah penduduk di Batam sebanyak 656.030 penduduk, dan pada tahun 2007 jumlahnya meningkat menjadi sebanyak lebih dari 700.000 pennduduk. Sementara itu, berdasarkan data kependudukan penduduk yang dilakukan oleh BPS ( Badan Pusat Statistik ) menunjukan bahwa pada tahun 2003 jumlah penduduk pria di Kota Batam sebanyak 268.431. Sementara itu jumlah penduduk di wanita di Kota Batam sebanyak 294.230. Hal ini menunjukan bahwa jumlah penduduk wanita di Pulau Batam lebih banyak daripada jumlah penduduk pria di pulau Batam.
Sementara itu aspek – aspek apa saja yang menjadi kelebihan / kekuatan Pulau Batam.beberapa kelebihan pulau Batam yakni posisi geografisnya yang berbatasan dengan 3 negara lain, yaitu : Singapura, Malaysia, Thailand. Hal ini membuat Batam sangat menguntungkan untuk dijadikan kawasan perdagangan bebas. Mengingat wilayah perbatasan suatu Negara biasanya rentan akan adanya campur tangan berbagai hal dari Negara lain. Selain itu penduduk Batam yang terdiri dari berbagai macam suku dan bangsa merupakan suatu kekuatan tersendiri dari Batam. Karena dengan adanya keanekaragaman budaya dan adat, hal ini menciptakan suatu keunikan tersendiri dari Batam. Dan dapat dijadikan suatu potensi wisata yang cukup memiliki nilai tinggi, mengingat adanya percampuran budaya dari berbagai suku bangsa.
Namun adapula beberapa aspek yang menjadi kelemahan atau sisi kekurangan dari Kota Batam. Beberapa diantaranya yaitu kualitas dari sumber daya manusia di Batam yang masih kurang. Apalagi apabila dibandingkan dengan kualitas sdm di beberapa wilayah lain di Indonesia seperti salah satunya di Pulau Jawa. Apalagi tidak lama lagi Batam akan menghadapi FTZ ( Free Trade Zone ) hal ini merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan, mengingat kita akan bersaing dengan tenaga – tenaga kerja asing / ekspatriat. Dan dibutuhkan kualitas sdm yang tinggi untuk menghadapi persaingan terbuka ini. Aspek lain yang menjadi sisi kelemahan lain dari Batam yaitu masih lemahnya infrastruktur kebutuhan mendasar seperti kebutuhan air dan listrik ( menyangkut hajat hidup orang banyak ), mengingat masih seringnya terjadi pemadaman
\
listrik dan air. Hal ini dikarenakan pengelolaan listrik dan air di Batam dilakukan oleh pihak swasta. Padahal segala macam hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak pengelolaannnya sudah sepatutnya dilakukan oleh pihak pemerintah local / setempat.
Berkaitan dengan akan dilaksanakannya FTZ di Batam, maka beberapa aspek pun mulai dibenahi di Batam. Lalu apa sebenarnya yang dapat kita ketahui dari FTZ itu sendiri? FTZ adalah satu atau lebih area perdagangan pada suatu negara dimana suatu kebijakan perdagangan seperti tarif dan kuota di eliminasi dan tahapan birokrasi dimudahkan. Dengan harapan semakin berkembangnya perdagangan dan investasi internasional pada negara tsb. Berikut beberapa keterangan mengenai pelaksanaan FTZ di Batam :
u Pada awalnya statusnya diberikan oleh Presiden Soheharto, dan lebih dikenal dengan “ Bonded Area “.
u Disahkan oleh Presiden SBY, dengan PP No.46, 47, 48 Tahun 2007 dan diresmikan pada 20 Agustus 2007.
u Sempat dicabut statusnya pada saat Pemerintahan Megawati menjadi “Kawasan Berikat “, sehingga menyebabkan beberapa harga barang2 impor menjadi naik.
u FTZ di Wilayah Batam : Seluruh wilayah P.Batam, Pulau Tonton, Pulau Setoko, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru.
Pengembangan FTZ di Batam sendiri pembangunannya akan difokuskan pada pembangunan infrastuktur di beberapa pulau kecil di sekitar Batam seperti P.Tonton, P.Setoko, P.Nipah, P.Rempang, P.Galang, dan P.Galang Baru.